Iklan
Menelusuri Asal-usul Puncak Srege: Kisah Jaran Sembrani, Makam Anjun, dan Semangat Gotong Royong Masyarakat Ngantang
wisatapuncaksrege.com , Ngantang, Malang - Di balik keindahan alam Puncak Srege yang menawarkan panorama Waduk Selorejo dan hamparan sawah hijau, tersimpan cerita sejarah dan mitos yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Desa Sumberagung, Kecamatan Ngantang. Nama "Srege" sendiri memiliki kisah panjang yang berkaitan dengan legenda Jaran Sembrani dan Makam Anjun yang menjadi bagian dari budaya lokal setempat.
Mbah Rumaji, seorang sesepuh dusun yang kini berusia senja, menceritakan asal-usul nama Puncak Srege yang bermula dari fenomena mistis pada era 1960-an hingga 1970-an. Kisah ini menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas wisata yang kini mulai dilirik oleh para pencinta alam dan petualang.
Kisah Jaran Sembrani, Suara Tanpa Rupa di Malam Jumat Legi
Mbah Rumaji, tokoh masyarakat Dusun Bandarejo, mengisahkan bahwa pada tahun 1960-an hingga 1970-an, masyarakat setempat sering mendengar suara kuda yang datang pada malam Kamis Kliwon atau malam Jumat Legi. Suara itu berasal dari puncak bukit dan turun ke perkampungan warga.
"Pada waktu tahun sekitar 1960-an, ada yang namanya Jaran Sembrani. Tiap malam Kamis Kliwon, malam Jumat Legi, itu turun ke kampung. Ada suaranya, tapi tidak dapat dilihat dari mata. Orang-orang takut, tapi suara itu keliling kampung," kenang Mbah Rumaji.
Menurutnya, suara yang terdengar persis seperti suara kuda membuat masyarakat setempat menamainya Jaran Sembrani. Anak-anak muda pada masa itu sering mendengar suara tersebut, namun tidak pernah melihat wujudnya. "Suaranya itu persis jaran (kuda), maka dari itu dinamakan Jaran Sembrani," jelasnya.
Fenomena ini terjadi berulang kali dan menjadi cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mbah Rumaji meyakini peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1969 hingga 1972.
Asal-usul Nama Puncak Srege dari Ajaran Ngirit-ngirit
Mbah Rumaji juga menjelaskan asal-usul nama "Srege" yang erat kaitannya dengan ajaran ngirit-ngirit (hemat) yang diajarkan oleh para leluhur. Istilah ini kemudian diadaptasi menjadi nama "Puncak Srege" yang hingga kini dikenal oleh masyarakat setempat.
"Kalau sekarang mirip-mirip nyirik, istilah zaman sekarang joget menari. Tapi kata itu ada ajaran ngirit-ngirit terus puncak itu dinamakan puncak. Itu katanya mbah-mbah saya zaman dahulu asal usulnya Puncak Srege," jelasnya.
Mbah Rumaji menambahkan bahwa di puncak bukit tersebut dahulu terdapat bulu-bulu yang diduga bekas kuda. "Saya pada waktu itu sekitar tahun 1969 sampai 1973 mencari rumput di puncak, memang ada bulu, bekas-bekasnya memang ada zaman dulu. Tapi sekarang bagaimana, saya tidak bisa menemukan lagi," tuturnya.
Legenda Makam Anjun, Asal-usul Nama Gunung Srigin
Kisah lain yang tidak kalah menarik adalah legenda Makam Anjun. Menurut Mbah Rumaji, dahulu ada seseorang yang bernama Anjun yang naik kuda dan jatuh di lokasi tersebut. Peristiwa itu kemudian menjadi asal-usul penamaan gunung di kawasan itu.
"Kenapa dinamakan Anjun? Ada yang naik kuda jatuh ke situ, maka dinamakan Anjun. Kalau sekarang namanya mantri pasar, tapi kalau zaman kuno dinamakan Anjun. Yang meninggal di situ orangnya naik kuda terus," ceritanya.
Mbah Rumaji menyebut bahwa lokasi tersebut sekarang dikenal dengan nama Gunung Srigin, namun puncak tempat wisata ini tetap disebut Puncak Srege sebagai warisan budaya yang melekat pada masyarakat.
Perjuangan 2017-2026, Dari Kerja Bakti hingga Uji Coba Paralayang
Perjalanan wisata Puncak Srege tidak terlepas dari perjuangan panjang masyarakat setempat yang sudah dimulai sejak tahun 2017. Mbah Rumaji menceritakan bahwa pembangunan awal dimulai dengan urunan dana sebesar Rp20.000 per orang untuk pembangunan jalan.
"Masyarakat waktu itu diajak urunan Rp20.000 bangun jalan awal. Sudah bekerja bakti semua. Saya orang 10 nonstop sejak tahun 2017 belum pernah berhenti," ungkapnya.
Pada tahun 2018, sempat dilakukan uji coba paralayang di Puncak Srege. Penerbangan pertama berlangsung selama 28 menit dan menyedot perhatian warga. "Orang semua melihat, kok ada paralayang. Sampai sekarang usahanya Pak Cipto mulai tahun 2017," tambahnya.
Semangat Gotong Royong dan Harapan ke Depan
Mbah Rumaji menyampaikan bahwa seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga pemuda, sangat mendukung pengembangan wisata Puncak Srege. Ia berpesan agar pengelolaan wisata ke depan dijaga dengan tiga prinsip utama: kedisiplinan, kejujuran, dan transparansi.
"Mudah-mudahan apa yang telah dicita-citakan masyarakat Mulyorejo utamanya dan tokoh-tokoh masyarakat, tokoh agama, semua mendukung. Mudah-mudahan cepat. Sekarang hanya satu: kedisiplinan, kejujuran, transparan. Jangan sampai ada yang berjalan tidak sesuai yang diharapkan," pesannya.
wisatapuncaksrege.com turut mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat Dusun Bandarejo dalam mengembangkan potensi wisata Puncak Srege. Dengan dukungan semua pihak, diharapkan wisata ini dapat segera di-launching dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
( Wicaksono )
Artikel Terkait
Iklan
Iklan
BRI Region 13 Malang Gandeng 25 Kantor Cabang, Salurkan Rp22,3 Miliar untuk Masyarakat
Iklan
YBM BRILiaN SBO Malang Berdayakan Buruh Tani Lewat Zakat Produktif, Mustahik Panen Lebih dari 5 Ton Melon
Iklan
Semeru Mart Catat Transaksi Rp150 Juta, EDC BRI Jadi Andalan UMKM Situbondo
Iklan